Blog

Cerpen Mediana Maulida Anak Kelas 10 Di SMA Cinta Kasih Tzuchi Dalam Festival Bahasa dan Sastra Se-DKI dan Banten, UMT 2020

Kakek belum Pamit,

Karangan Meidiana Maulida

Kematian kakek beberapa tahun lalu, masih menyisakan pilu. Belum sempat berpamit namun, sudah hilang jiwanya. Hanya raga kakek yang masih sempat ku tangisi. Mengingatnya saja terasa seperti gelap yang menyebar dan menusuk kalbu. Bahkan, air mata yang tiada hentinya mengalir tidak mampu menjelaskan betapa teramat sedihnya diriku saat itu. Kesunyian merasuki relungku selama berhari-hari dan enggan untuk meninggalkannya.

Siang itu matahari sangat terik tepat saat aku masih kecil tertawa dan bermain bersama kakakku. Keseruan yang aku alami serta canda dan tawa saat itu seketika redup saat ayah mengatakan “Diam! Doakan kakek, beliau sudah tidak bernafas.” Suasana mulai sunyi disertai isakan tangis nenek. Di saat itu juga diriku yang masih kecil masih bingung sekaligus terkejut. Aku sangat percaya kakek akan baik-baik saja dan aku juga terkejut, bagaimana bisa aku kehilangan orang yang begitu baik dan sabarnya kepadaku, bahkan beliau belum berpamit kepadaku. Tawa, senyum, dan canda semuanya habis direnggut kesedihan, rumahku sangat ramai orang berdatangan namun terasa sangat amat sepi. Setiap harinya ada beberapa tetes air mata yang selalu mengalir tidak luput dengan kata-kata semangat dari dalam hati yang bermaksud menguatkan diri sendiri. Bahkan, setiap terbangun dari tidurku aku selalu menghampiri ruang tamu berharap sosok beliau dengan kaos putihnya tengah duduk di sana sambil melamun entah memikirkan apa. Namun, itu semua tidak ada dan yang aku alami adalah murni sebuah kisah nyata bukan mimpi buruk karena lupa membaca doa.

Ingatan ku tertuju pada suatu sore saat aku sedang sibuk mencoba pakaian pesta terbaruku lengkap dengan rambut yang sudah ku sisir, aku pergi menemui kakek di ruang tamu seperti biasa beliau sedang melamun, entah apa yang beliau pikirkan saat itu.

“Lihat kakek, aku cantik ngga?”

“Cantik dong! cucu kakek selalu cantik.” Tak lupa beliau tersenyum dan memunculkan ibu jarinya.

“Iya, aku pakai baju pesta baru, bajunya bagus ya,” ucapku sambil berputar memperlihatkan baju pesta tersebut.

“Cucu kakek selalu cantik, pakai apa saja juga pasti cantik.” Mungkin terdengar klise hanya kata- kata untuk menenangkan hati namun, sangat berarti. Wajahnya yang selalu teduh membuatku semakin yakin bahwa ia mengatakannya dengan jujur. Serta nada bicaranya yang lembut dan ikhlas tidak pernah sekalipun aku mendengar kakek mengeluarkan nada tingginya.

Tak lama sejak itu keadaan kakek mengatakan bahwa dirinya tidak sedang baik baik saja. Kulihat tubuh kakek yang kian semakin kurus, hilangnya semangat kakek pada hari itu, serta sedikit kata yang terucap dari bibirnya. Melihat keadaan kakek itu, keluarga kami membawanya ke rumah sakit dan setelah diperiksa dan dilakukan penanganan ternyata kakek mengidap gangguan prostat. Mendengar berita itu membuat hatiku teramat sakit, seperti datangnya kegelapan dan masuk ke diri bagian terdalam. Diriku saat itu sibuk menahan tangis agar tidak mengalir. Hal ini mengharuskan kakek beristirahat dengan waktu yang lumayan lama, tubuh kakek semakin lemas dan sulit untuk berdiri tegak, semakin hari semakin memburuk, dengan harapan yang sama aku serta keluarga berharap dan yakin kakek akan sehat.

Pada pagi hari itu aku bergegas bangun dari ranjangku dan saat itu mataku langsung tertuju pada pemandangan indah, yaitu kerumunan keluargaku di teras rumah dengan kakek yang menjadi pusat perhatian di sana. Aku menghampiri dan melihat kakek sedang berjemur, kulitnya yang sudah tak lagi kencang dengan sinar matahari yang mulai menghampiri. Kakek tidak bisa dibohongi, sudah tidak bisa berpura-pura badannya semakin kurus dan lemas, dan di sanalah selalu muncul rasa rindu akan kembali tegaknya tubuh kakek. Beliau selalu duduk di kursi dengan roda di bawahnya yang selalu siap membawa kakek kemanapun, kakek tampak seperti lelaki yang kuat di atas kursi roda. Semua anak dan cucunya berkumpul di teras rumah mengelilingi kakek dan memberikan beberapa pertanyaan untuknya.

“Saya siapa, kakek?” tanya salah satu anaknya sambil menunjuk nunjuk dirinya. Namun kakek hanya terdiam.

“Oh kakek lupa ya, ini Vera yang itu Farah.” Lanjut anaknya, sambil menunjuk saudaranya. “Kalau aku, ingat nggak kakek?” kataku, namun beliau menggeleng kecil.

“Tidak apa-apa kalau tidak ingat, nanti kita coba ingat sedikit demi sedikit ya.” Ucap anaknya menenangkan kakek, sembari memegang tangan kakek.

“Kakek sehat sehat ya, sekarang kita berjemur sambil kumpul-kumpul ya. Nanti diusahakan setiap hari libur akan selalu seperti ini.” Lanjut anaknya. Begitulah, semua anak kakek sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing jadi hanya bisa berkumpul di hari libur.

Sudah mulai pudar ingatannya pada saat itu, kami anak dan cucu pun membantunya perlahan mengingatkan kembali. Kakek benar-benar tidak ingat siapapun kecuali istrinya, nama anak dan cucunya suka tertukar-tukar dalam pikirannya. Kami semua tertawa kecil saat berkumpul dengan kakek karena di balik sakitnya beliau selalu tersenyum, berharap ia akan sembuh dan kembali segar seperti dulu. Anak dan cucunya selalu memberikan semangat kepada kakek, dengan harapan yang sama. Setiap harinya ada banyak sekali doa untuk kakek yang kami kirimkan kepada tuhan. Dengan segenap harapan yang menginginkan manusia baik dan gagah itu kembali membaik.

Kakek terus menerus berada di ranjangnya, sesekali beliau melirik ke jendela kamarnya, memandangi burung burung yang berlalu-lalang sembari bernyanyi seakan menghibur kakek pada saat itu. Matahari pagi melewati wajahnya, membuat wajah itu kembali berseri. Cukup lama kakek memandang keluar jendela, beliau tidak kunjung tertidur, Entah apa yang kakek pikirkan karena beliau tidak bisa membagikan perasaannya denganku saat itu, sementara itu nenek selalu siap siaga di sampingnya menampung keluhan kakek setiap saat, terjaga setiap malam dan tidurnya menjadi kurang. Aku menghampiri kakek yang melamun di sana.

“Kakek, apa kabar, sudah membaik belum?” tanyaku. Dan tidak ada jawaban darinya.

“Alhamdulillah, doakan saja ya, kakek pasti sembuh!” ucap nenek, sambil memegang tangan kakek seakan menguatkan dirinya.

“Kakek harus kuat ya, nanti kita berkumpul lagi tapi kalau kakek sudah sembuh. nanti kita makan soto Betawi kesukaan kakek ya.” Kataku dengan sangat semangat.

“Iya dong! pasti kakek kuat, sebentar lagi pasti bisa jalan lagi seperti dulu, kan?” nenek mengajukan pertanyaan kepada kakek. Kakek hanya mengangguk kecil merespon pertanyaan dari nenek.

“Baiklah, kakek istirahat ya biar besok sudah segar lagi.” Kataku sembari pamit meninggalkan kakek di kamarnya dengan nenek. Tak kuasa melihat beliau dengan keadaan seperti itu.

Semakin hari, kakek mulai tidak mengenali siapa aku, tidak ada satu katapun yang terucap olehnya hanya ada anggukan dan gelengan kepala yang membuatku ikut bingung. Responnya ketika diajak bicara juga sedikit lambat. Setiap harinya nafsu makan kakek semakin bertambah, dan itu yang membuat pikiran positifku tentang kesembuhan kakek kembali muncul, walaupun saat itu kakek tidak mengeluarkan sedikit katapun namun, senyum di wajahnya tidak pernah hilang.

Keesokan harinya nenek menyuapi kakek makan dan memberinya minum dengan sabar serta penuh kasih sayang. Setelah itu nenek pamit untuk salat zuhur karena kakakku sudah pulang dari masjid untuk salat jumat. Nenek salat tidak jauh dari ranjang kakek, mengingat suaminya itu bisa saja tiba tiba membutuhkan bantuan. Setelah selesai salat, tiba-tiba kakek meminta nenek untuk ditegakkan sandaran bantalnya dan saat itu juga nenek mendengar suara yang agak keras dari nafas kakek. Wajah nenek mulai panik dihiasi kekhawatiran. Namun, perasaan seorang istri memang selalu menang, nenek segera memeriksa nafas dan memegang kaki kakek. Kaki nya semakin lama semakin dingin dan wajah teduhnya yang sering kupandangi itu kian memucat.

Nenek terus-menerus menangis dan ayah menghubungi dokter untuk cepat datang memeriksa keadaan kakek. Saat itu aku, kakak, dan ayah semuanya berkumpul berusaha membangunkan kakek namun hasilnya nihil. Aku dan kakak sembari berdoa semoga kakek diberikan kekuatan dan semoga mimpi buruk itu tidaklah terjadi, sementara kakek sedang dicek oleh dokter dengan stetoskop miliknya. Saat dokter menaruh jarinya di hidung kakek serta memeriksa nadinya, dokter itu menggeleng. Satu gerakan penuh makna yang langsung bisa membuat kami semua teramat sedih. Aku hanya bisa menangis terus-menerus, kepedihan itu menusuk ke relungku. Berharap kedua mata itu dapat kembali terbuka. Ayah dan kakak menelepon semua keluarga dan kerabat untuk datang ke rumah kami. Dan sedikit demi sedikit Saudara dan kerabat berdatangan mengucapkan kalimat yang enggan aku dengar.

Kain putih yang kau kenakan saat terakhir kali aku melihatmu begitu membuatku sesak pada saat itu. Menemanimu ke tempat peristirahatan terakhir, dan melihat beberapa orang mengangkatmu. Ada puluhan manusia berdatangan menuju tempat terakhirmu, kakiku sangat sulit melangkah dengan air mata yang tiada henti-hentinya terus keluar. Serta tak sanggup aku melihat

nenek dan keluarga menangis sekencang itu. Perasaan sunyi merasuki kalbuku, pikiranku masih berkecamuk, sementara aku sibuk berbicara pada rasa sedih untuk bernegosiasi agar tidak sepedih ini, seakan perasaan senang itu habis ditelan. Kejadian ini seperti mimpi buruk yang menjadi nyata. Hidup ini adalah misteri banyak yang hilang, banyak juga yang pergi. Terkadang kehilangan membawa luka yang perih, sesak dan sedikit penyesalan. Memaksakan kehendak tuhan agar kakek tidak pergi, sama saja dengan menggali luka kembali.

Angin pilu memeluk diriku dan kesedihanku. Ingin sekali menahan sebelum Beliau pergi, ingin memeluk sebelum sebelum mata itu tertutup. Aku rindu dengan sosok kuat di atas kursi roda dengan sinar mentari yang ikut meneranginya. Saat itu aku benar-benar tidak menyangka, aku sangat yakin kakek akan sembuh nantinya, tetapi Tuhan maha agung, bukan? Tuhan tidak mau melihat hamba tercintanya kesakitan terlalu lama. Tuhan tidak suka melihat hamba-Nya yang baik terus menerus berjuang dengan kerumitan di kehidupan. Kenyataan yang aku dan keluarga harus terima, kenyataan ini pula yang menggantikan senyum di wajahku dengan air mata yang tidak pernah tertinggal, dan kenyataan ini juga yang membuatku harus rela mengikhlaskan manusia terbaik di dalam hidupku. Beberapa hari setelah kehilangan sosok kakek, aku juga sering memaksa diriku untuk ikhlas dan bersyukur, tak jarang pula aku bertengkar dengan diriku sendiri apakah benar ini adalah cara mengihklaskan dan bersyukur? atau hanya cara yang memaksaku untuk selalu baik-baik saja, untuk terlihat tegar di mata orang lain. Pamit adalah hal yang aku inginkan dari kakek sebelum ia pergi meninggalkan kami semua, namun pamit juga hal yang dibenci untuk didengar. Kematian yang sulit ditebak manusia hanya tuhan yang mengetahui mana yang terbaik. Perasaanku seperti berada di ruang sempit dan gelap terasa sesak dan seperti tersesat. Pamit bukan satu-satunya solusi untuk menenangkan hati. Mungkin kakek sudah pamit lebih dahulu, beliau sudah tidak kuat untuk terus-menerus menahan sakit, seharusnya aku bisa lebih dekat dengannya saat itu.

Enam tahun sudah engkau beristirahat, aku bahagia sekarang kakek tidak merasakan rasa sakit lagi, kakek sudah tidak perlu melamun memikirkan hal-hal yang rumit dalam kehidupan lagi, kakek juga tidak perlu meminum obat yang pahit itu. Dan enam tahun pula kami dan keluarga kehilangan sosok kuat dan istimewa. Perpisahan ini bukanlah kesedihan yang abadi, suatu saat kita akan bertemu lagi. Menyalahkan keadaan adalah hal pertama yang aku lakukan, namun seiring waktu kian berjalan aku mulai terbiasa dengan itu semua, mengikhlaskan adalah cara untuk

lukanya mengering dan sembuh sedikit demi sedikit. Jari-jemariku memang sudah tidak dapat menggenggam tanganmu lagi, namun mendoakan kakek sudah membuat diriku senang, sembari membayangkan senyum dan raut wajahnya yang begitu menenangkan. Kakek dan segala kenangan hangatku bersamanya tidak dapat terulang lagi. Tidak ada yang lebih menyesakkan dari menahan rindu. Hanya angan-anganku yang ingin memeluk sosok yang gagah itu, doa dan segala harapan semoga tersampaikan.

Kehilangan sosok kakek juga membuat diriku semakin mandiri dan menjadi pribadi yang lebih kuat. Aku siap beradaptasi dan ikut berdamai dengan kenyataan saat ini, dan aku yakin itu juga harapan kakek untuk seluruh anggota keluarga kami. Bangkit merupakan caraku untuk membuat kakek tenang dan lega di sana. Sedikit terkejut dengan masa-masa kemarin, tidak membuat langkah dan mimpiku menjadi berhenti digapai terus-menerus. Kakek ingin terus melihat kami sekeluarga menjalani hari dengan tulus dan bahagia, sama seperti yang selalu beliau lakukan selagi raganya masih sempat kugapai. Dirimu dan kain putih yang melekat akan dipupuk bersama beberapa kenangan hangat semasa hidup. Kutaburi bunga-bunga cantik di tempat peristrirahatanmu yang terakhir, dengan segenap doa sambil mengelus dada. Tenanglah, tanganku tidak pernah lelah untuk menghapuskan air mata. Beberapa malam sunyi yang kulewati bersama burung-burung di depan kaca jendelamu, akan mengantarkan sebongkah rindu yang telah kucurahkan. Perasaan kacauku luruh saat membayangkan wajahnya yang tersenyum di sana sambil melambaikan tangan, dan menjauh perlahan. Aku kembali sembuh dan keluargaku akan kembali tangguh. Ragamu memang hilang namun, hatimu dan segala nasihatmu akan selalu singgah. Doa dan wejanganmu selalu ku ingat hari ini dan seterusnya.

Nama lengkap : Meidiana Maulida

Alamat : Jl. Perumahan KFT blok c3. No 6, Cengkareng, Jakarta barat Asal sekolah : SMA Cinta Kasih Tzu Chi

HP : 081223530313

Alamat Instagram : @meyanada

Leave a Reply

Your email address will not be published.