Blog

Juara 3 Lomba Menulis Cerpen Tingkat SMA/SMK Se DKI dan Jabodetabek

Sashenka Aysha Gunawan Murid Kelas 10 SMA Cinta Kasih Tzu Chi Yang Meraih Juara 3 Lomba Menulis Cerpen Tingkat SMA/SMK Se DKI dan Jabodetabek Dalam Rangka Festivasl Bahasa dan Sastra, UMT 2020

Terdampar Di Pulau Misteri
           
            Pada pagi yang cerah, matahari bersinar terang menerangi bumi yang dipenuhi dengan pepohonan rindang, seorang anak laki laki bernama Mark sedang membaca buku di halaman rumah. Sesekali ia melihat pemandangan yang ada disekitarnya. Tiba-tiba, terlintas dipikirannya untuk berlibur bersama teman-teman. Ia ingin mengisi waktu liburan dengan berpetualang. Ia berpikir bahwa liburan bersama teman-teman lebih mengasyikkan, ia bisa membuat memori indah. Itulah bayangan Mark untuk liburannya nanti. Tanpa pikir panjang, ia segera menelepon teman-temannya. Pertama, ia menelepon temannya, Hendery. Mark meneleponnya, “Halo Hendery, gimana kabarmu?” kata Mark memulai pembicaraan. “Halo juga Mark, tentu saja kabarku baik. Gimana denganmu?” tanya Hendery. “Aku baik baik aja Hen,” jawab Mark. “Oh ya, ada apa kamu meneleponku?” tanya Hendery. “Jadi gini, aku pengen mengajakmu berlibur bersama. Kamu mau ikut kan?” tanya Mark. “Oh ya tentu Mark, apa kamu udah menghubungi teman-teman yang lain?” jawab Hendery sangat antusias. “Belum Hen. Aku coba meneleponmu terlebih dahulu,” jawab Mark. “Oke kalau gitu, nanti kabarin aku aja ya, bye Mark.” balas Hendery. “Oke Hen, Bye.” jawab Mark menutup teleponnya. Hendery merupakan teman dekat Mark yang sangat baik hati, suka membantu, hobi bermain basket, dan setia kawan. Kadang, Mark dan Hendery bermain basket bersama disaat mereka mempunyai waktu senggang.Detik demi detik, menit demi menit berlalu. Mark masih asyik mencari nama teman-temannya yang akan ia hubungi, ia bingung. Setelah sekian lama ia mencari nama kontak yang dituju, akhirnya ia mendapatkannya dan mencoba untuk meneleponnya, orang itu bernama Lucas. Lucas adalah teman dekat Mark setelah Hendery, ia hobi bermain musik, humoris, dan ia benar-benar have fun banget “What’s up bro, gimana kabarnya?” tanya Mark yang super heboh. “Halo Mark, baik banget kok, gimana sama kamu?” jawab Lucas semangat. “Oh ya, ada apa?” Lucas menambahkan.”Jadi gini Cas, aku pengen berlibur bersama, kamu mau ikut gak?” tanya Mark penuh antusias. “Wah boleh,” jawab Lucas. “Aku mau ajak Kak Johnny, Kak Kun, Chenle ya? “ tanya Lucas. “Oke deh, bye Cas” jawab Mark, lalu Mark menutup telepon. Mark rasa sudah cukup ia menelepon teman-temannya, lalu ia membuat grup Whatsapp beranggotakan dirinya, Lucas, Kak Johnny, Kak Kun, Hendery, dan Chenle. Mark memulai percakapan, “Hai semuanya, kapan kita akan membahas liburan ini, guys?”. Lucas menjawab, “Besok aja, mumpung senggang.”. Lalu Chenle menjawab, “Boleh juga tuh”. Mark bertanya, “Gimana Kak Kun, Kak Johnny, dan Hendery? Apa kalian setuju?”. lalu Kun, Johnny, dan Hendery menjawab serempak, “Ya, kita setuju”. Mark menjawab, “Oke besok kita kumpul di rumahku ya” lalu mereka menjawab “Oke”.Keesokannya, pukul 10 pagi Lucas, Kun, Johnny, Chenle, dan Hendery berada di rumah Mark. Saat itu suasana cukup hening, hanya ada suara daun berguguran dan kicauan burung. Tepat hari ini, mereka bisa kumpul kembali dalam 1 tujuan bersama yaitu liburan. “Gimana soal rencana liburan kita?” tanya Chenle memecah keheningan. Lucas menjawab asal “Kita akan menaiki perahu motor dan mengendarainya di sekitar pantai, oh ya jangan lupa membawa plastik, karena aku sering menemukan cangkang kerang yang bagus di pantai.” lalu Kun menambahkan “Di antara kita ada yang bisa mengendarainya?” Mark menambahkan “Kak Johnny kayaknya bisa mengendarainya, ya gak kak?” lalu Johnny mengangguk setuju.Chenle bertanya sambil mengeluarkan pulpen dan kertas, “Barang apa aja yang akan kita bawa nanti?”. “Senter, tali, selimut tebal, pakaian hangat, jas hujan, payung, baju renang, kaus, celana, dan sepatu.” jawab Mark segera. “Suhu di pantai tak menentu. Saat siang terasa sangat panas, tapi malamnya huh, brrr…!” Lucas menambahkan. Mereka berlima tertawa. “ Ya, kudengar juga begitu” kata Kun. Chenle mencatat semua yang dikatakan Mark. “Mmm… kurasa kita perlu topi,”. “Ya, benar, sinar matahari di pantai bisa sangat terik,” sahut Kun.”Apakah kita perlu membawa tenda? Barangkali kita ingin mencoba berkemah di halaman rumah bibi Mark. Gimana dengan sleeping bag?” tanya Chenle.  “Good Idea!” sambut Mark. “ Kebetulan halaman rumah bibi luas! Aku coba minta izin ke bibi, kayaknya akan dibolehkan.” jawab Mark. “Jangan lupa makanan dan minuman untuk di perjalanan,” tambah Johnny.
 “Bagus!” puji Mark, melihat tulisan Chenle yang rapi di atas notes. “Kapan kita berangkat?” tanya Johnny. “Gimana kalau besok lusa?” Lucas menambahkan. “Oke” jawab Chenle, Hendery, Johnny, Mark, dan Kun. “Kita naik sepeda aja ke stasiunnya, dan kita kumpul langsung di taman ya” tambah Mark. Mereka mengangguk-angguk. “Baiklah, kalau begitu, besok lusa di taman!” seru Mark mantap, menyuarakan keputusan mereka.
Hari pun tiba, mereka mengayuh sepeda sekuat tenaga menuju stasiun. Dari kejauhan sudah terdengar peluit kereta melengking. Keenam anak tersebut itu mempercepat kayuhan sepedanya, menaiki jalan yang sedikit menanjak. Sepeda-sepeda mereka memasuki stasiun. Tampak seorang petugas menyongsong mereka. “Akhirnya!” ucapnya gembira.”Aku menunggu lama, kalian udah terlambat dua menit!” kata Petugas. Petugas itu melabeli sepeda mereka, memasukkannya dalam gerbong khusus untuk barang-barang.
Beberapa jam kemudian, mereka sampai di tujuan, petugas sudah menyiapkan keenam sepeda mereka. Mereka menaiki sepeda masing-masing, mengambil koper mini mereka, dan mengayuh sepeda keluar dari stasiun sambil berseru terima kasih kepada petugas. “Sekarang tunjukkan arah menuju rumah bibimu, Mark!” perintah Johnny. Mark memimpin di depan. Akhirnya sampai di depan rumah bibinya yang dekat dengan laut. Mark membunyikan bel dan menunggu Bibi keluar.
“Mark Sayang! Kamu datang lebih cepat!” Bibi Mark antusias. “Ya, keretanya jauh lebih cepat dari biasanya Bi,” sahut Mark. “Bibi, aku membawa kelima sahabatku” ujar Mark. “Ini Hendery, kak Johnny, kak Kun, Chenle, dan Lucas”. “Betapa tampannya kalian! Mari kutunjukkan kamar-kamar kalian!” kata Bibi Mark, Jean. “Sekarang, ayo beres-beres” ujar Mark. Mereka masuk ke kamar masing-masing untuk merapikan baju-bajunya ke lemari. Beberapa jam kemudian, mereka keluar kamar untuk makan malam, di dapur tersebut tersedia 5 piring, 5 gelas, beraneka macam makan makanan kering, dan lauk pauk. Setelah makan, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. suasana malam itu sangatlah dingin, jadi mereka memilih untuk tidur secepatnya.
Keesokan harinya, setelah mandi dan sarapan, mereka bersiap untuk melakukan petualangan. Mereka berkumpul di kamar Mark. Satu jam kemudian, mereka selesai membicarakan rencana petualangan dan bersiap ke pantai, tak lupa mereka membawa baju ganti sebagai piranti. Sesampainya mereka di pantai, mereka berenang dengan gembira. Hendery melihat perahu motor yang melintas didekat mereka, “Guys, kita naik perahu motor yuk!” ajak Hendery. “Jangan lupa bawa senter, barangkali kita bisa mengunjungi sebuah pulau dekat sini.” tambah Chenle. “Baiklah” Mark menerima usulan. Chenle dan Kak Kun, kalian siapkan tali, senter, dan perkakas lainnya! Hendery dan Lucas, kalian siapkan bekal, minta pada Bibi Jean ya! Aku dan Kak Johnny menyiapkan alat alat yang akan kita bawa nanti seperti baju renang yang masih bersih punya kita semua!” Mark menambahkan. Dalam sekejap mereka berpencar, akhirnya mereka sudah menyiapkan alat alat yang akan mereka bawa. “Udah siap?” tanya Mark kemudian. Semua menggangguk. Mark pun menggiring mereka keluar rumah menuju perahu motor. Mereka pun menaiki perahu motor tersebut. Beberapa menit kemudian, perahu motor mereka meluncur di permukaan air, meninggalkan pantai yang jauh di belakang. Perasaan mereka itu sama, berdebar-debar, bersemangat, dan merasa bebas!
Mark dan Johnny bergantian mengendarai perahu motor. “Kita bebas!” seru mereka gembira. Berpasang-pasang mata indah terus menatap air laut biru luas. “Kita bebas sebebas-bebasnya!”. Beberapa lama kemudian, Mark tersenyum dan berkata “Ada pulau! Ayo mampir!”. Matanya yang tajam melihat sebuah pulau di kejauhan. Sesampainya mereka di pulau, perahu motor mereka tiba-tiba ditarik oleh sebuah tali. Beberapa orang bertopeng hitam menodongkan senjata kepada mereka, “Serahkan perahu kalian pada kami!” penjahat-penjahat itu menggertak Mark, Lucas, Kun, Johnny, Hendery dan Chenle. “Ba…baik.” jawab Mark gemetar. Para penjahat itu dengan kasar mendorong Mark, Lucas, Kun, Johnny, Hendery, dan Chenle yang semua kaki tangan mereka telah diikat keluar perahu. Lalu, mereka melemparkan tas dan perlengkapan Mark dan teman temannya. Mereka ingin menunggu bantuan, tapi Mark rasa tidak mungkin dan akhirnya Mark menyuruh Chenle untuk mengambil pisau kecil di saku bajunya. Chenle segera memotong tali yang mengikatnya dan Mark. Chenle berhasil memotong tali Mark dan Mark membantu untuk memotong tali teman-teman lainnya. Karena mereka kelelahan, akhirnya mereka istirahat di pinggir pulau dengan alas daun-daun lebar. Keesokan harinya, Mereka bangun tidur, dan bersikap santai bermain memasuki Pulau. Mereka menemukan sungai yang sangat indah. Lalu, mereka berkumpul di pinggir sungai. Byur! Johnny langsung menceburkan diri di sungai. “Wah, bersih, jernih, dan segar!” seru Johnny puas. Kelima sahabatnya langsung mengikutinya. Beberapa menit kemudian. Johnny memanggil Mark. “Mark!” seru Johnny. “Cobalah ke sini, aku menemukan sesuatu yang aneh”. Dengan cepat, Mark berenang menuju tempat Johnny. “Lihat ada paket di sana. Bisakah kamu mengambilnya?” tanya Johnny. “Tentu” jawab Mark. Lalu Johnny, Mark, dan teman lainnya kembali ke pinggir sungai sambil membawa barang yang ditemukan, mereka membukanya ternyata itu sebuah barang penyelundupan yaitu Narkotika. Lalu mereka berinisiatif untuk mengubur barang tersebut di dalam pohon. “Akhirnya selesai!” Hendery menyeka keningnya yang berkeringat. “Habis ini, kita enaknya ngapain ya?” tanya Lucas. “Gimana kalau kita mengintai?” usul Kun. “Yap, itu ide bagus!” tanggap Chenle. “Kebetulan, aku ada teropong. Aku udah jalan-jalan mengelilingi pulau ini. Ada tempat yang tinggi untuk mengintai musuh” kata Chenle. “Kita harus bergiliran, biar gak bosan.” tambah Mark. Mereka bergantian untuk berjaga dan mengintai. Hari ke lima, tugasnya Chenle untuk berjaga. Sebuah kapal menuju pulau tempat mereka terdampar. Yang semula teman-temannya yang sedang bersantai dalam gua, kini harus bersiap-siap membawa barang-barangnya untuk mengetahui siapa yang datang. Mereka keluar gua lalu memanjat tebing yang tidak terlalu tinggi. Mereka melihat sekelompok orang masuk ke dalam gua berbeda dengan gua yang mereka temukan. Chenle terus maju diikuti oleh teman-temannya yang mengikuti kelompok mencurigakan tersebut. Mereka menyusuri jalan tersebut dan tibalah mereka di sungai bawah tanah, mereka terkejut “Harta Karun!”. Kelima sahabatnya itu ikut memegang bermacam-macam perhiasan. “Betapa indah! “Dari mana, ya?” Apakah perhiasan ini hasil curian atau sengaja disembunyikan?” tanya Mark. “Yang jelas, itu bukan urusan kalian, Pemuda-Pemuda!” jawab sebuah suara yang yang mengejutkan mereka. Dalam sekejap tiba-tiba mereka sudah dibekap dan diikat erat dengan tali. “Kalian akan kami kurung!” kelompok penjahat tersebut keluar sambil terbahak-bahak. Setelah sekelompok penjahat itu keluar, Chenle berusaha untuk mengambil pisau di dalam sakunya, lalu memotong tali yang mengikat ia dan teman-temannya. Beberapa menit kemudian, ia berhasil. Mereka segera kembali ke gua mereka secepatnya, sebelum para penjahat itu datang. Hari mulai gelap. Suasana sepi dan dinginnya malam sangat terasa. Sesampainya di gua, mereka beristirahat sejenak. Dan keesokkan harinya, mereka segera membawa semua barang-barang yang berserakan di lantai gua dan memasukkan ke dalam lubang tempat mereka bersembunyi. Di dalam lubang, tiba tiba Kun mendapat ide yang cukup gila-gilaan “Gimana kalau kita merebut salah satu sekoci, lalu membawanya menuju pantai di dekat rumah Bibi Jeanice? usulnya. Mereka mengangguk bersamaan. Dengan cekatan, Mark langsung menyeret perahu itu ke air, ia yang mengambil alih dayung perahu. Kelima sahabatnya itu mengikutinya. Dan akhirnya…..mereka bebas! Beberapa jam kemudian, mereka sampai di rumah Bibi Jeanice dengan selamat. “Akhirnya,” ujar Chenle puas. “Petualangan ini berakhir dengan menyenangkan! Kita bisa bersantai santai dengan tenang di liburan ini”.
*Good Idea = Ide bagus*
*Sleeping Bag = Kantung tidur*
*What’s up = Apa kabar dalam bahasa gaul*
Identitas Penulis
Nama lengkap = Sashenka Aysha Gunawan
ID Instagram = @chaachaa100
No WA = 087880006734 / 087772725671
Email = sashenkaaysha2005@gmail.com
Asal Sekolah = SMA Cinta Kasih Tzu Chi

Leave a Reply

Your email address will not be published.